Senin, 12 Januari 2015

Belajar Dari Tukang Potong Sapi Ketiban 16 Milliar Lebih

Belajar Dari Tukang Potong Sapi Ketiban 16 Milliar Lebih
minggu kemarin saya makan bareng di saung bamboe depok dengan sahabat saya yang bekerja sebagai kepala cabang leasing terkemuka dan ia mengajak seorang kerabatnya "neh kenalin new big bos" katanya. Namanya pak Jaenal A. gayanya  biasa saja. dengan kaos oblong dan peci hitam terpakai  kepalanya. kami berkenalan dan beliau mulai bercerita, Ia di depok ini hanya mampir dan akan pergi umroh ke tanah suci dengan Sarana  service super VIP dan hotel bintang banyak, saya agak terperanjat  dengan pengakuannya ini. saya lebih terperanjat lagi dan nyaris loncat dari saung tempat kami makan kekali sebrang (lebay mode on), ketika ia bercerita bahwa ia ketiban rejeki dari Yang Di Atas sebesar Rp 16 M lebih . What?!! 16 M? Ini bukanlah duit yang sedikit lho pak. helikopter juga kebeli, mengapa aku tertarik dengan ceritanya??? sebab banyak sekali ilmu yang aku dapat dari ceritanya.... okeh mari kita simak

petualangannya dimulai di era 80 hinggan 90an, Pak Jaenal katakan bila ia bekerja sebagai penyembelih sapi ( bukan Bandar sapi loch dipertegas pak Jaenal) ia selalu menyisihkan pendapatannya untuk beli tanah sedikit demi sedikit, kita pasti tau saat itu adalah masa perseteruan dan harga tanah di serambi mekah sangatlah murah. Tetapi pak Jaenal mempunyai kepercayaan positif "satu waktu aceh serambi mekkah akan berdamai,juga bakal dilimpahi kemakmuran". Begitulah dengan kepercayaannya itu, ia pelan-pelan menyisihkan tabungannya buat beli tanah dipinggiran desa, sebuah rawa seluas 8000 mtr lebih. Rata-rata harga nya cuma Rp 20. Rb per mtr.. Nyatanya visi investasi Pak Zainal benar dan akurat (wah Pak Zainal sendiri mungkin saja tidak tahu apakah itu visi investasi….). Selepas sunami serta perjanjian damai, duit trilyunan rupiah mengalir ke Serambi Mekah. dan gilanya, tanah rawa punya Pak Jaenal masuk ruang pelebaran jalan raya tembus antar kabupaten. Begitulah, pada akhirnya disetujui tanah seluas 8000 mtr. persegi itu dibeli oleh Pemda Aceh seharga Rp 2 Jt - per meternya. Alhasil, fulus sebesar Rp 16 M jatuh kepangkuannya. Lantas, apa yang dapat kita bisa petik dari kisah pak jaenal? paling sedikit ada tiga poin  utama dalam financial planning yang dapat kita ambil dari cerita Sang Penyembelih Sapi ini.

Poin yang ke- 1 yaitu suatu rencana yang dalam wacana wealth management dikatakan sebagai exponential income growth. Atau perkembangan pendapatan dengan cara eksponensial. Pak Jaenal beli tanah dengan harga Rp 20 Rb lalu menjualnya Rp 2 Jt per meter. Ini berarti naik seratus kali lipat atau 10, 000 persen!! And sorry to say om n tante , bila sobat masuk dalam katagori karyawan, sobat nyaris tidak mungkin dapat mencapai perkembangan pendapatan dengan cara eksponensial ini. Karena, rata-rata kenaikan upah karyawan hanya 10 persen pertahun (ini juga telah tergerus oleh laju inflasi). Kalaulah upah sobat 10 Jt per bln., sobat butuh 133 th. untuk menghimpun duit sebesar 16 milyar (hmmm.... udah jadi tulang belulang 133 th). benang merahnya adalah : untuk beroleh exponential income growth, sobat harus mempunyai usaha sendiri atau lakukan investasi atas aset produktif ( property,saham atau tanah).

Poin pelajaran yang ke-2 yaitu apa yang dikatakan sebagai passive income. atau membiarkan duit bekerja untuk sobat, bukan sobat bekerja mati-matian untuk mencari duit. Pak Jaenal bercerita, bila duitnya itu beberapa sudah disimpan di deposito, beberapa diberikan pada anak-anaknya, serta beberapa diinvestasikan kembali berbentuk property serta tanah juga digunakan untuk umroh dengan sarana super VIP minggu depan. Kalaulah yang didepositokan 10 milyar, dengan anggapan bunga 1% per bln., jadi setiap bln. Pak Zaenal dapat terima duit sebesar Rp 100 Jt……dan duit ini selalu mengalir tanpa ada bekerja. Selama seharian, pak Zaenal dapat tidur sambil ngopi2 (gimana bisa tidur ngopi ha...ha...) atau memancing ikan di kali tanpa takut kekurangan. sementara kita, sebatas untuk memperoleh 5 Jt per bln. musti berusaha keras, pergi dari rumah jam 7 pagi, pulang selepas Isya. belum lagi dikantor dibantai bos lagi mending kalo kita yang salah kalo bosnya yang cari kesalahan hadeh pait sobat. udah gitu dijalan bercengkrama dengan kemacetan belom lagi ketemu preman2 berseragam pening kepala rasanya membayangkan hal itu, duh gusti nasip-nasip.....

Poin pelajaran ke-3 dan paling akhir yaitu apa yang dikatakan sebagai financial freedom alias kebebasan finansial. Dengan duit sebesar 16 M, pak Zaenal tidak kuatir lagi masa depan anak serta cucunya sampai tujuh turunan. Saat harga BBM selalu melambung, beberapa orang mengeluh, memprotes serta membakar ban dijalanan (memang ban dibakar, sim salabim, harga BBM dapat kembali kesemula?) lebih baik bila daya untuk mengeluh serta memprotes atau mendemontrasikan itu disalurkan untuk tingkatkan income growth dalam mencapai financial freedom, sama seperti yang diperlihatkan pak Jaenal. Dengan financial freedom, kita tidak lagi takut setiap saat diguncang kenaikan harga bahan pokok serta BBM. Nantinya, saat harga bensin jadi Rp 20 Rb per liter, pak Jaenal mungkin saja bakal tenang-tenang saja……bisa tidur santai atau memancing ikan dikali.

itulah tiga poin evaluasi finansial yang kita pelajari dari sang Penyembelih Sapi dari Aceh . matahari mulai tenggelam dan kami menyelesaikan makan sore kami. Saya masih melihat segaris senyum tersungging pak Jaenal mungkin saja tengah termenung dalam buaian indahnya tanah suci. Inilah sepotong cerita hidup yang berkelimpahan harta dengan rasa sukur dan selalu mengalir tanpa ada henti-hentinya amin…

nah jika sahabat butuh pinjaman uang untuk merubah hidup sobat jangan ragu hubungi saya ea...... sukses selalu.......

2 komentar:

  1. Sangat menginspirasi...ngomong@ soal pinjaman bisa di emailkan ke jatonmandiri@gmail.com mksh

    BalasHapus

Trimakasih atas komentar sobat, saya akan membalas secepatnya, salam sukses!!

BACA JUGA POSTING LAINNYA